Pusatfilm

Setiap film punya pusat: satu tempat yang membuat ceritanya mungkin. Dilan butuh Bandung, Laskar Pelangi butuh Belitung, dan Notting Hill butuh sebuah toko buku di London. Pusatfilm membaca kata pusat di namanya sebagai pertanyaan: di mana cerita ini berpusat? Seratus delapan puluh sembilan film ditata dalam lima belas rak latar. Enam rak pertama menyusuri Nusantara, dari Jakarta sampai kawasan timur, lalu mengikuti para perantau ke negeri orang. Sembilan rak berikutnya berkeliling dunia: New York, Amerika, London, Eropa, Korea, Jepang, Tiongkok, lautan, dan luar angkasa. Pilih tempatnya, dan film akan membawa Anda ke sana.

Poster Forrest GumpAmerikaForrest GumpPoster Harry Potter and the Philosopher's StoneLondonHarry Potter and the Philosopher's StonePoster Django UnchainedAmerikaDjango UnchainedPoster Spider-Man: HomecomingNew YorkSpider-Man: HomecomingPoster Inside OutAmerikaInside Out

Lima belas latar: di mana ceritanya berpusat?

NusantaraJakarta

Lihat semua (22)

NusantaraBandung dan Jawa Barat

Lihat semua (9)

NusantaraYogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur

Lihat semua (9)

NusantaraSumatra dan Belitung

Lihat semua (6)

NusantaraSumba, Sulawesi, dan Kalimantan

Lihat semua (5)

NusantaraPerantau di negeri orang

Lihat semua (17)

Kota dan negeri BaratNew York

Lihat semua (14)

Kota dan negeri BaratAmerika dari pantai ke pantai

Lihat semua (14)

Kota dan negeri BaratLondon dan Kepulauan Britania

Lihat semua (14)

Kota dan negeri BaratParis dan Eropa

Lihat semua (14)

Asia TimurSeoul dan Korea

Lihat semua (13)

Asia TimurJepang

Lihat semua (13)

Asia TimurTiongkok dan Hong Kong

Lihat semua (13)

Alam luasPulau dan lautan

Lihat semua (13)

Alam luasLuar angkasa

Lihat semua (13)

Panduan Pusatfilm

Pusatfilm: pusat cerita

Setiap cerita punya pusat

Cobalah membayangkan Dilan dan Milea berboncengan di kota lain selain Bandung, atau Laskar Pelangi di pulau lain selain Belitung. Sulit. Sebagian film begitu lekat dengan tempatnya sehingga tempat itu terasa seperti tokoh. Toko buku kecil di London, gang sempit di Seoul, kedai kopi di Jakarta, stasiun kereta di Wina: tempat-tempat itu adalah pusat cerita, titik yang membuat segala peristiwa mungkin terjadi.

Pusatfilm membaca kata pusat di namanya sebagai pertanyaan: di mana cerita ini berpusat? Seratus delapan puluh sembilan film ditata dalam lima belas rak latar. Enam rak pertama menyusuri Nusantara dan mengikuti para perantau Indonesia ke negeri orang. Sembilan rak berikutnya berkeliling dunia, dari New York sampai luar angkasa. Setiap film berdiri di satu rak, yaitu tempat yang paling menentukan ceritanya.

Menata film menurut tempat mengubah cara memilih tontonan. Anda berhenti bertanya ingin menonton genre apa dan mulai bertanya ingin pergi ke mana malam ini. Gagasan ini diuraikan di Pusat cerita, dan langkah pertama untuk pengunjung baru ada di Mulai di Pusatfilm.

Peta dalam angka

Peta Pusatfilm memuat 189 film dari tahun 1935 sampai 2025. Enam puluh delapan di antaranya film Indonesia. Film dunia datang dalam sembilan bahasa: 78 berbahasa Inggris, tiga belas Korea, tiga belas Jepang, enam Mandarin, lima Kanton, tiga Italia, serta masing-masing satu film berbahasa Jerman, Spanyol, dan Latvia. Dua puluh tiga judul adalah film animasi.

Nilai rata-rata seluruh peta adalah 7,39 dari sepuluh, dan 41 film bernilai 8,0 atau lebih. Durasi rata-ratanya 120 menit. Rak terbesar adalah Jakarta, dengan 22 film, disusul rak perantau dengan 17 film. Rak terkecil adalah kawasan timur Indonesia, dengan lima film. Sembilan rak dunia masing-masing memuat tiga belas atau empat belas film.

Lima belas rak itu dikelompokkan dalam empat bagian peta. Nusantara memuat enam rak dengan 68 film. Kota dan negeri Barat memuat empat rak dengan 56 film. Asia Timur memuat tiga rak dengan 39 film. Alam luas memuat dua rak dengan 26 film.

Papan lima belas latar

Di beranda Pusatfilm, di bawah deretan film unggulan, terdapat papan berisi lima belas kotak. Setiap kotak mewakili satu latar dan menampilkan nama bagian petanya, nama latar, jumlah film, serta satu judul yang paling ramai di sana. Garis biru menandai enam rak Nusantara, garis hitam empat rak Barat, dan garis hijau lima rak Asia Timur dan alam luas.

Tekan sebuah kotak, dan halaman bergulir ke baris latar tersebut. Tiap baris menampilkan empat kartu, yaitu empat film yang paling banyak dinilai penonton di latar itu. Nama latar tercetak dengan warna biru di tiap kartu. Tautan Lihat semua membuka daftar lengkapnya. Cara membaca kartu dijelaskan di Kartu film.

Jakarta

Rak terbesar adalah ibu kota. Dua puluh dua film berpusat di Jakarta, dari tahun 2002 sampai 2025, dan bersama-sama mereka memperlihatkan betapa banyak wajah kota itu. Nilai rata-ratanya 7,13, dan tiga film bernilai 8,0 atau lebih.

Ada Jakarta yang keras. Serbuan Maut mengurung satu regu polisi di sebuah gedung apartemen kumuh, dan The Raid 2: Berandal melebarkan ceritanya ke seluruh dunia hitam kota. Gundala menjadikan Jakarta yang timpang sebagai tempat lahir seorang pahlawan. Pengepungan di Bukit Duri membayangkan kota ini pada 2027, dan 13 Bom di Jakarta menyebar ancaman dari satu sudut ke sudut lain.

Ada Jakarta yang hangat. Cek Toko Sebelah dan lanjutannya berpusat di sebuah toko kelontong. Home Sweet Loan, dengan nilai 8,1, mengikuti seorang pegawai yang mencari rumah mungil di pinggiran. Nanti Kita Cerita tentang Hari Ini masuk ke rumah satu keluarga. Bebas, dengan nilai 8,0, mempertemukan kembali sahabat SMA dari pertengahan dekade 1990-an. Filosofi Kopi berpusat di sebuah kedai kopi, dan Love for Sale di sebuah percetakan tua.

Ada Jakarta para remaja dan pemimpi. Film pertama Ada Apa dengan Cinta berlangsung di sebuah SMA dan di lapak buku bekas Kwitang. Catatan Akhir Sekolah dan Dua Garis Biru juga berpusat di sekolah. Janji Joni berpacu dari bioskop ke bioskop. Gie kembali ke Jakarta dekade 1960-an. Dan Jatuh Cinta Seperti di Film-Film, dengan nilai 8,8, tertinggi di seluruh peta, menjadikan kafe dan swalayan kota ini panggung kisah cinta orang dewasa. Rak ini dilengkapi Get Married, Comic 8, Jakarta vs Everybody, dan Alangkah Lucunya (Negeri Ini), tempat para pencopet cilik belajar di sela jalanan.

Bandung dan Jawa Barat

Dari Jakarta, peta bergerak ke selatan dan menanjak. Sembilan film berpusat di Bandung dan Jawa Barat, dari tahun 2000 sampai 2024. Udara di rak ini lebih sejuk dan ceritanya lebih muda: hampir semuanya tentang anak sekolah, mahasiswa, dan keluarga.

Bandung tahun 1990 adalah milik Dilan. Dilan 1990, Dilan 1991, dan Milea: Suara dari Dilan menyusuri jalan-jalan kota itu dengan sepeda motor tua, dan Dilan 1983: Wo Ai Ni mundur ke masa kecil tokohnya. Koboy Kampus berlangsung di kampus teknik ternama kota itu pada dekade yang sama, dan Perahu Kertas mengikuti dua mahasiswa yang bertemu di Bandung.

Petualangan Sherina, dengan nilai 7,9, membawa seorang anak Jakarta pindah ke Bandung, lalu ke perkebunan dan teropong bintang di Lembang. Keluarga Cemara, dengan nilai 8,0, tertinggi di rak ini, memindahkan satu keluarga dari Jakarta ke rumah tua di sebuah desa Jawa Barat. Preman Pensiun: The Movie menghadirkan pasar dan terminal Bandung dengan logat Sunda yang kental. Durasi rata-rata rak ini 107 menit.

Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur

Sembilan film berpusat di bagian tengah dan timur Pulau Jawa. Rak ini memuat film sejarah terbanyak di Nusantara, dan durasi rata-ratanya, 123 menit, adalah yang terpanjang di antara enam rak Indonesia.

Yogyakarta diwakili film kedua Ada Apa dengan Cinta, tempat Cinta dan Rangga berjalan semalaman dari satu sudut kota ke sudut lain, sampai matahari terbit di sebuah bukit. Jawa Tengah diwakili Kartini, yang berlangsung di Jepara, Kucumbu Tubuh Indahku, yang mengikuti seorang penari lengger dari desa ke desa di Banyumas, serta Soegija dan Ave Maryam, yang sama-sama berlatar Semarang. Ave Maryam, dengan 74 menit, adalah film terpendek di peta. Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta kembali ke kerajaan Mataram.

Jawa Timur menyumbang tiga latar yang sangat berbeda. Bumi Manusia, dengan 181 menit, menghidupkan Surabaya pada peralihan abad kedua puluh. 5 cm mendaki Semeru, puncak tertinggi di Pulau Jawa. Negeri 5 Menara berlangsung di sebuah pesantren di Ponorogo, tempat enam santri dari berbagai daerah memandang menara masjid dan memimpikan lima menara dunia.

Sumatra dan Belitung

Enam film berpusat di Sumatra dan pulau-pulau di sekitarnya. Rak ini kecil, tetapi nilai rata-ratanya, 7,3, adalah yang tertinggi di antara enam rak Nusantara. Latar yang kuat tampaknya melahirkan film yang kuat.

Laskar Pelangi, dengan nilai 7,6, dan Sang Pemimpi berlangsung di Belitung, pulau timah tempat sepuluh murid sebuah sekolah miskin menolak menyerah. Setelah film itu, pantai berbatu granit di pulau tersebut menjadi tujuan wisata. Ngeri-Ngeri Sedap, dengan nilai 7,9, tertinggi di rak ini, berpusat di sebuah rumah di tepi Danau Toba, tempat sepasang orang tua Batak berpura-pura akan bercerai agar anak-anaknya pulang dari rantau.

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, dengan 163 menit, berlangsung di ranah Minang pada dekade 1930-an, tempat adat memisahkan sepasang kekasih. Sokola Rimba masuk ke hutan Jambi bersama seorang guru yang mengajar anak-anak Orang Rimba membaca. Dan Nagabonar dari 1986, film Indonesia tertua di peta, berlangsung di Sumatra Utara pada masa revolusi, dengan seorang pencopet yang mengangkat dirinya menjadi jenderal.

Sumba, Sulawesi, dan Kalimantan

Lima film berpusat di luar Jawa dan Sumatra. Inilah rak terkecil di peta, dan kekecilannya adalah catatan tersendiri: sebagian besar film Indonesia masih dibuat di Jakarta dan sekitarnya, dan kawasan tengah serta timur jarang menjadi pusat cerita.

Sumba muncul dua kali. Pendekar Tongkat Emas menjadikan padang sabana pulau itu dunia persilatan yang sunyi dan luas. Susah Sinyal, dengan nilai 7,7, tertinggi di rak ini, mengirim seorang ibu pengacara dan putrinya berlibur ke sana, ke tempat sinyal telepon sukar didapat sehingga keduanya terpaksa saling bicara.

Kalimantan juga muncul dua kali. Kabut Berduri berlangsung di perbatasan Indonesia dan Malaysia, tempat seorang detektif dari Jakarta menyelidiki pembunuhan di tengah hutan. Petualangan Sherina 2 membawa Sherina dan Sadam ke pusat pelestarian orang utan. Sulawesi diwakili Tarung Sarung, dengan nilai 7,4, yang berpusat di Makassar dan pada tradisi adu tarung dalam satu sarung.

Perantau di negeri orang

Rak keenam Nusantara berada di luar Nusantara. Tujuh belas film Indonesia berpusat di luar negeri, mengikuti pelajar, pekerja, dan pencinta yang merantau. Semuanya rilis antara 2008 dan 2018, masa ketika film Indonesia gemar bepergian. Halaman Peta perantau mendaftar tujuannya satu per satu.

Eropa adalah tujuan yang paling sering. Rudy Habibie, dengan nilai 7,7, mengikuti mahasiswa teknik di Aachen, Jerman. Laskar Pelangi 2: Edensor, dengan nilai 7,8, tertinggi di rak ini, membawa Ikal dan Arai ke Paris. 99 Cahaya di Langit Eropa berkeliling dari Wina sampai Cordoba. Negeri van Oranje mengikuti lima mahasiswa di Belanda, Si Doel the Movie membawa si Doel ke Amsterdam, dan Surat dari Praha berpusat di ibu kota Ceko. Belok Kanan Barcelona mengumpulkan empat sahabat dari empat benua di Spanyol. Ayat-Ayat Cinta 2 berlangsung di Edinburgh, dan dua film London Love Story di Inggris dan Swiss.

Tujuan lain tersebar di tiga benua. Ayat-Ayat Cinta berlangsung di Kairo. Assalamualaikum Beijing, dengan nilai 7,5, dan Kukejar Cinta ke Negeri Cina berlangsung di Tiongkok. My Stupid Boss dan film kedua Warkop DKI Reborn berlangsung di Malaysia, dan Merry Riana: Mimpi Sejuta Dolar di Singapura. Critical Eleven mempertemukan sepasang kekasih dalam penerbangan dan mengikuti mereka ke New York.

Nusantara dalam satu pandangan

Keenam rak pertama membentuk daftar Nusantara, dengan 68 film Indonesia dari tahun 1986 sampai 2025. Nilai rata-ratanya 6,91, durasi rata-ratanya 113 menit, dan empat film bernilai 8,0 atau lebih. Tiga di antaranya berpusat di Jakarta dan satu di Jawa Barat.

Sebarannya memperlihatkan peta produksi film kita. Hampir sepertiga film Indonesia di sini berpusat di Jakarta, seperempatnya di luar negeri, dan sisanya terbagi atas Jawa di luar ibu kota, Sumatra, dan kawasan timur. Film yang berani keluar dari Jakarta sering mendapat sambutan lebih hangat: rak Sumatra memegang nilai rata-rata tertinggi. Uraiannya ada di Panduan Nusantara.

New York

Peta dunia Pusatfilm dimulai di kota yang paling sering difilmkan. Empat belas film berpusat di New York, dari tahun 1960 sampai 2020. Nilai rata-ratanya 7,66, dan lima film bernilai 8,0 atau lebih.

New York adalah kota para pahlawan super. Pertempuran penutup The Avengers berlangsung di jalan-jalan Manhattan. Spider-Man 2 berayun di antara gedung pencakar langitnya, dan Spider-Man: Homecoming berpusat di Queens. Men in Black menyembunyikan makhluk asing di tengah warganya, dan Fantastic Beasts and Where to Find Them melepas hewan ajaib di kota itu pada 1926.

New York juga kota para pekerja kantoran dan pendatang. The Apartment dari 1960, dengan nilai 8,2, mengikuti seorang pegawai asuransi yang meminjamkan kunci apartemennya kepada para atasan. The Devil Wears Prada berlangsung di kantor majalah mode, The Intern di sebuah perusahaan rintisan di Brooklyn, dan The Terminal di ruang tunggu bandara. The Godfather Part II, dengan nilai 8,6, tertinggi di rak ini, memperlihatkan kampung imigran Italia pada awal abad kedua puluh.

Sisanya memperlihatkan sisi yang lebih lembut. Annie Hall adalah surat cinta seorang pelawak kepada kotanya. Big mengubah seorang anak menjadi orang dewasa dan menaruhnya di toko mainan terbesar. Wonder, dengan nilai 8,1, mengikuti seorang anak di sekolah barunya, dan Soul mengikuti seorang guru musik yang mengejar panggung jazz.

Amerika dari pantai ke pantai

Di luar New York, Amerika terlalu luas untuk satu kota. Empat belas film di rak ini berpusat di berbagai penjuru negeri itu, dan nilai rata-ratanya, 7,8, adalah salah satu yang tertinggi di peta. Lima film bernilai 8,0 atau lebih.

Pantai barat diwakili Los Angeles dan San Francisco. La La Land menari di atas jalan layang Los Angeles. Inside Out berlangsung di kepala seorang anak yang baru pindah ke San Francisco. Moneyball berpusat di sebuah klub bisbol di Oakland, dan The Social Network berpindah dari asrama Harvard ke California. Little Miss Sunshine menyetir mobil tua kuning melintasi gurun menuju sebuah kontes di California.

Pantai timur dan tengah menyumbang kota-kota keras. The Departed, dengan nilai 8,2, dan Spotlight sama-sama berlangsung di Boston. The Sting dan Ferris Bueller's Day Off sama-sama berlangsung di Chicago, yang pertama pada dekade 1930-an dan yang kedua pada satu hari bolos sekolah.

Selebihnya adalah Amerika yang terbentang. Forrest Gump, dengan nilai 8,5, tertinggi di rak ini, berlari dari Alabama ke seluruh negeri. Django Unchained berkuda melintasi Texas dan Mississippi. Rain Man menyetir dari Ohio ke Las Vegas. Cars berhenti di sebuah kota kecil di tepi jalan raya lama, dan Oppenheimer, dengan 181 menit, membangun sebuah kota rahasia di gurun New Mexico.

London dan Kepulauan Britania

Empat belas film berpusat di London, Skotlandia, dan Irlandia, dari tahun 1964 sampai 2021. Inilah rak dunia yang paling ramah keluarga, dengan nilai rata-rata 7,34 dan durasi rata-rata 126 menit.

London adalah kota cerita anak. Mary Poppins dari 1964 mendarat dengan payungnya di sebuah rumah di kota itu. Paddington tiba di stasiun yang memberinya nama. Dua film Harry Potter di rak ini, yang pertama dan yang ketiga, berangkat dari peron rahasia di stasiun London menuju sekolah di dataran tinggi Skotlandia. Film ketiga, dengan nilai 8,0, adalah yang tertinggi di rak ini.

London juga kota detektif dan kekasih. Dua film Sherlock Holmes berlangsung di London zaman Victoria. Notting Hill berpusat di sebuah toko buku perjalanan, The Holiday di sebuah pondok di pedesaan Inggris, dan Shakespeare in Love di panggung teater London abad keenam belas. Chariots of Fire mengikuti dua pelari Britania menuju Olimpiade 1924.

Skotlandia muncul dalam dua film berjudul mirip: Brave, animasi tentang putri pemanah, dan Braveheart, epik 178 menit tentang seorang pemberontak. Pulau Irlandia juga muncul dua kali: Sing Street, dengan nilai 7,9, berlangsung di Dublin dekade 1980-an, dan Belfast di kota bernama sama pada 1969.

Paris dan Eropa

Empat belas film berpusat di daratan Eropa, dari Paris sampai sebuah pulau di Yunani. Nilai rata-ratanya 7,71, dan lima film bernilai 8,0 atau lebih. Dengan durasi rata-rata 116 menit, rak ini termasuk yang paling ringkas di peta dunia.

Paris muncul dalam empat film. Ratatouille berpusat di dapur sebuah restoran. Midnight in Paris berjalan-jalan pada tengah malam sampai tiba di dekade 1920-an. Hugo tinggal di balik jam sebuah stasiun kereta. Dan Before Sunset, hanya 80 menit, mengikuti dua orang berjalan di tepi Sungai Seine. Kisah mereka dimulai sembilan tahun sebelumnya di Wina, dalam Before Sunrise. Wina juga menjadi pusat Amadeus, 160 menit tentang Mozart dan seorang pesaing yang iri.

Italia muncul dalam empat film. Cinema Paradiso dan Life Is Beautiful, keduanya bernilai 8,4, tertinggi di rak ini, berlangsung di sebuah kota kecil di Sisilia dan di Toskana. Luca berenang di pesisir Liguria, dan The Great Beauty berjalan menyusuri Roma pada malam hari.

Sisanya melengkapi peta benua itu. The Lives of Others berlangsung di Berlin Timur, All About My Mother di Barcelona, kisah si Cantik dan si Buruk Rupa di sebuah desa dan kastel Prancis, dan sebuah film musikal dengan lagu-lagu ABBA di sebuah pulau Yunani.

Kota dan negeri Barat dalam satu pandangan

New York, Amerika, London, dan Eropa bersama-sama membentuk bagian kedua peta, dengan 56 film dari tahun 1960 sampai 2023. Nilai rata-ratanya 7,63, dan enam belas film bernilai 8,0 atau lebih. Inilah bagian peta yang paling sering dikunjungi film berbahasa Inggris. Uraiannya ada di Panduan keliling dunia.

Seoul dan Korea

Tiga belas film berpusat di Korea, dari tahun 2001 sampai 2025. Bersama Jepang, rak ini memegang nilai rata-rata tertinggi di peta, 7,81, dan tujuh dari tiga belas filmnya bernilai 8,0 atau lebih.

Seoul dalam film Korea adalah kota bertingkat, secara harfiah. Parasite, dengan nilai 8,5, bergerak naik turun antara rumah megah di bukit dan ruang setengah bawah tanah di dataran rendah. The Man from Nowhere berlangsung di gang-gang pegadaian, New World di kantor mewah sebuah sindikat, dan The Roundup mengikuti seorang detektif Seoul yang kepalannya lebih cepat daripada laporannya. Oldboy, dengan nilai 8,2, mengurung tokohnya selama lima belas tahun di sebuah kamar di kota itu.

Di luar ibu kota, Korea memperlihatkan lukanya. A Taxi Driver berangkat dari Seoul ke Gwangju pada Mei 1980. Silenced berlangsung di sebuah sekolah di kota kecil yang berkabut, dan Hope, dengan nilai 8,4, di sebuah lingkungan sederhana tempat satu keluarga berusaha pulih. Broker menyusuri jalan raya dari Busan ke Seoul, dan Ashfall membawa ceritanya sampai ke gunung berapi di perbatasan utara.

Korea juga punya sisi manis. My Sassy Girl dari 2001 mempertemukan dua mahasiswa di peron kereta bawah tanah. 20th Century Girl, dengan nilai 8,2, kembali ke sebuah kota provinsi pada 1999. Dan KPop Demon Hunters, film animasi berbahasa Inggris, menjadikan panggung konser dan atap-atap Seoul arena perburuan iblis.

Jepang

Tiga belas film berpusat di Jepang, dari tahun 1988 sampai 2023, enam di antaranya animasi. Nilai rata-ratanya 7,81, dan empat film bernilai 8,0 atau lebih.

Pedesaan Jepang adalah latar kesayangan Hayao Miyazaki. My Neighbor Totoro berlangsung di sebuah desa persawahan pada dekade 1950-an, dan Spirited Away, dengan nilai 8,5, dimulai di sebuah terowongan di pinggir kota baru. Makoto Shinkai memilih jalan lain: film pertukaran tubuhnya dari 2016, juga bernilai 8,5, berayun antara Tokyo dan sebuah kota danau di pegunungan, sedangkan Suzume menyusuri seluruh kepulauan dari Kyushu sampai Tohoku.

Tokyo masa kini muncul dalam Jujutsu Kaisen 0 dan Bubble, yang membayangkan ibu kota itu terendam dan ditinggalkan. Kota-kota yang lebih tenang menjadi pusat film Hirokazu Kore-eda: Still Walking di sebuah rumah keluarga di tepi laut, After the Storm di sebuah rumah susun, dan Monster di sebuah kota danau. Drive My Car, dengan 179 menit, berlangsung di Hiroshima, di dalam sebuah mobil merah.

Jepang lama diwakili dua film pedang. Zatoichi karya Takeshi Kitano berlangsung di sebuah kota kecil pada zaman Edo, dan Rurouni Kenshin: The Final di Tokyo pada awal zaman Meiji. Rak ini ditutup Departures, yang berlangsung di sebuah kota kecil di Yamagata, tempat seorang pemain selo pulang kampung dan menjadi perias jenazah.

Tiongkok dan Hong Kong

Tiga belas film berpusat di Tiongkok dan Hong Kong, dari tahun 1985 sampai 2021. Nilai rata-ratanya 7,41, dan rak ini terbagi rapi antara Tiongkok lama, Tiongkok modern, dan Hong Kong.

Tiongkok lama adalah negeri pedang dan istana. Hero berlangsung pada masa perang antarkerajaan, sebelum negeri itu bersatu. Dua film Red Cliff berlangsung di tepi Sungai Yangtze pada masa Tiga Kerajaan. Film pedang karya Ang Lee dari tahun 2000 berlangsung pada masa dinasti Qing, dari Beijing sampai gurun barat. The Last Emperor, dengan 163 menit, hampir seluruhnya berlangsung di dalam Kota Terlarang. Dan Kung Fu Panda membayangkan Tiongkok lama yang dihuni hewan.

Tiongkok abad kedua puluh dan masa kini diwakili Shanghai dan Chongqing. Kung Fu Hustle berlangsung di sebuah rumah susun kumuh di Shanghai dekade 1940-an, dan The Eight Hundred di sebuah gudang di kota yang sama pada 1937. Shaolin Soccer membawa biksu ke lapangan bola di kota modern. Better Days, dengan nilai 8,1, tertinggi di rak ini, difilmkan di Chongqing, kota bertingkat-tingkat di lereng bukit.

Hong Kong diwakili tiga film polisi dari tiga zaman: Police Story dari 1985, dengan kejar-kejaran menuruni permukiman lereng bukit, Hard Boiled dari 1992, dengan baku tembak di kedai teh dan rumah sakit, dan Raging Fire dari 2021, di jalan-jalan kota yang sudah jauh berubah.

Asia Timur dalam satu pandangan

Korea, Jepang, serta Tiongkok dan Hong Kong bersama-sama membentuk bagian ketiga peta, dengan 39 film dari tahun 1985 sampai 2025. Nilai rata-ratanya 7,68, dan dua belas film bernilai 8,0 atau lebih. Delapan film adalah animasi. Bagi penonton Indonesia, inilah bagian peta yang paling dekat, baik jaraknya maupun rasanya. Uraiannya ada di Panduan Asia Timur.

Pulau dan lautan

Dua rak terakhir meninggalkan kota dan negara. Tiga belas film berpusat di pulau dan lautan, dari tahun 1935 sampai 2024, tujuh di antaranya animasi. Nilai rata-ratanya 7,65.

Laut Karibia adalah wilayah tiga film pertama Pirates of the Caribbean. Samudra Pasifik menjadi pusat Moana dan Moana 2, kisah seorang putri kepala suku yang berlayar melewati karang, serta Mutiny on the Bounty dari 1935, film tertua di peta, tentang pemberontakan awak kapal di perairan Tahiti. Finding Nemo menyusuri arus dari Karang Penghalang Besar sampai pelabuhan Sydney.

Pulau terpencil adalah panggung yang disukai penulis cerita, karena jalan keluarnya tertutup laut. Cast Away mendamparkan seorang pegawai jasa kiriman selama empat tahun. Jurassic Park, dengan nilai 8,0, menaruh dinosaurus di sebuah pulau di lepas pantai Kosta Rika. Madagascar mendamparkan hewan kebun binatang di pulau yang menjadi judulnya. The Wild Robot, dengan nilai 8,3, tertinggi di rak ini, mendamparkan sebuah robot di pulau penuh satwa. Klaus berlangsung di pulau beku di ujung utara, dan Flow di dunia yang seluruhnya terendam.

Luar angkasa

Rak terakhir adalah yang paling jauh. Tiga belas film berpusat di luar angkasa dan di planet lain, dari tahun 1977 sampai 2023. Durasi rata-ratanya 136 menit, terpanjang di peta, dan nilai rata-ratanya 7,79.

Lima film Star Wars membentuk inti rak ini: film pertama dari 1977, The Empire Strikes Back dengan nilai 8,4, Return of the Jedi, Star Wars: The Force Awakens, dan Rogue One: A Star Wars Story. Galaksi yang jauh itu memiliki planet gurun, planet es, bulan berhutan, dan stasiun tempur sebesar bulan.

Planet lain menjadi pusat tiga film besar. Avatar berlangsung di Pandora, bulan berhutan yang bercahaya pada malam hari. Dune berlangsung di Arrakis, planet gurun penghasil rempah. Interstellar, dengan nilai 8,5, tertinggi di rak ini, meninggalkan bumi yang sekarat dan menembus lubang cacing menuju planet-planet di dekat lubang hitam.

Sisanya adalah luar angkasa yang lebih ringan. Kisah robot pemungut sampah dari Pixar, dengan nilai 8,1, berpindah dari bumi yang kosong ke kapal pesiar antariksa. Lightyear terdampar di planet asing. Film ketiga Guardians of the Galaxy melompat dari satu dunia ke dunia lain, Avengers: Infinity War bertempur di beberapa planet sekaligus, dan Space Sweepers dari Korea mengikuti awak kapal pemulung sampah antariksa.

Alam luas dalam satu pandangan

Pulau, lautan, dan luar angkasa membentuk bagian keempat peta, dengan 26 film. Nilai rata-ratanya 7,72, tertinggi di antara empat bagian, dan sembilan film bernilai 8,0 atau lebih. Sembilan film adalah animasi. Cerita yang meninggalkan kota tampaknya memberi pembuatnya ruang paling lapang untuk berkhayal. Uraiannya ada di Panduan alam luas.

Ketika sebuah film berpindah-pindah

Banyak film berlangsung di lebih dari satu tempat, sehingga menentukan satu pusat cerita kadang menuntut pertimbangan. Redaksi Pusatfilm memakai satu pertanyaan penguji: tempat mana yang, bila diganti, membuat cerita ini menjadi cerita lain? Halaman Cara menentukan latar menguraikan aturannya; berikut beberapa contoh.

The Godfather Part II berlangsung di New York, Nevada, Kuba, dan Sisilia. Namun inti ceritanya adalah lahirnya sebuah keluarga di kampung imigran New York, sehingga film itu berdiri di rak New York. Before Sunrise dan Before Sunset mengikuti dua tokoh yang sama, tetapi yang pertama mustahil dipisahkan dari Wina dan yang kedua dari Paris; keduanya berdiri di rak Eropa. Avengers: Infinity War bertempur di New York, Skotlandia, dan Wakanda, tetapi taruhannya adalah seluruh alam semesta, sehingga film itu berdiri di rak luar angkasa.

Film Indonesia menghadirkan soal yang sama. Critical Eleven dimulai di pesawat dan berakhir di Jakarta, tetapi tahun-tahun pertama pernikahan tokohnya, yang paling diingat penonton, berlangsung di New York, sehingga film itu masuk rak perantau. Susah Sinyal dimulai di Jakarta, tetapi hubungan ibu dan anak baru bergerak di Sumba. Perahu Kertas berpindah antara Bandung, Jakarta, dan Bali, dan redaksi memilih kota tempat kedua tokohnya bertemu.

Penetapan semacam ini adalah bacaan redaksi, dan Anda boleh membacanya dengan cara lain. Yang dijaga hanyalah satu aturan: satu film berdiri di satu rak, supaya peta tetap mudah dibaca.

Kota yang muncul di dua rak

Beberapa kota dikunjungi dua kali di peta Pusatfilm: sekali oleh film setempat, sekali oleh perantau Indonesia. Membandingkan keduanya memperlihatkan bagaimana satu kota berubah di mata orang yang berbeda.

New York di rak New York adalah kota pahlawan super dan pekerja kantoran. New York dalam Critical Eleven adalah kota asing tempat sepasang suami istri muda dari Jakarta memulai hidup berumah tangga. London di rak Britania adalah kota Paddington dan Sherlock Holmes. London dalam London Love Story adalah kota hujan tempat mahasiswa Indonesia jatuh cinta.

Paris dalam Ratatouille dan Midnight in Paris adalah kota makanan dan seni. Paris dalam Laskar Pelangi 2: Edensor adalah kota kampus yang dingin, tempat dua anak Belitung bekerja serabutan sambil kuliah. Barcelona muncul dalam All About My Mother dan dalam Belok Kanan Barcelona. Wina muncul dalam Before Sunrise dan dalam 99 Cahaya di Langit Eropa. Beijing dan negeri Tiongkok muncul di rak Tiongkok dan dalam dua film perantau.

Pasangan-pasangan itu cocok ditonton berurutan. Satu malam untuk kota menurut warganya, satu malam untuk kota menurut tamunya.

Sepekan keliling peta

Peta mengundang perjalanan, dan Pusatfilm menyediakan beberapa rute siap pakai di halaman Perjalanan contoh. Berikut satu rute tujuh malam yang berangkat dari rumah dan berakhir di tempat paling jauh.

Senin, mulailah di Jakarta dengan Cek Toko Sebelah, 104 menit di sebuah toko kelontong. Selasa, naiklah ke Bandung dengan Dilan 1990, 109 menit. Rabu, menyeberanglah ke Belitung dengan Laskar Pelangi, 120 menit. Kamis, tinggalkan tanah air bersama Rudy Habibie menuju Jerman, 142 menit.

Jumat, singgahlah di Seoul dengan Parasite, 133 menit. Sabtu, berlayarlah ke Pasifik dengan Moana, 107 menit. Minggu, tutup pekan dengan Interstellar, 169 menit menembus lubang cacing. Tujuh film itu berjumlah 884 menit, hampir lima belas jam, dan melintasi tujuh rak, dari Nusantara sampai luar angkasa.

Rute lain dapat disusun menurut arah mata angin. Rute barat berjalan dari Jakarta ke Kairo, London, dan New York. Rute timur berjalan dari Makassar ke Hong Kong, Seoul, dan Tokyo. Rute pulang berjalan mundur, dari luar angkasa ke sebuah rumah di tepi Danau Toba.

Catatan rekor di lima belas latar

Latar dengan nilai rata-rata tertinggi adalah Korea dan Jepang, sama-sama 7,81, disusul Amerika dengan 7,8 dan luar angkasa dengan 7,79. Di Nusantara, yang tertinggi adalah Sumatra dengan 7,3. Latar dengan nilai rata-rata terendah adalah rak perantau, dengan 6,58: film perjalanan ke luar negeri ramai ditonton pada masanya, tetapi jarang dinilai tinggi.

Latar dengan film bernilai delapan terbanyak adalah Korea, dengan tujuh judul. Film bernilai tertinggi di peta adalah Jatuh Cinta Seperti di Film-Film di rak Jakarta, dengan 8,8, disusul The Godfather Part II di rak New York dengan 8,6. Film terpanjang adalah The Godfather Part II dengan 202 menit, dan film terpendek adalah Ave Maryam di rak Jawa dengan 74 menit.

Latar dengan film tertua adalah lautan, berkat Mutiny on the Bounty dari 1935. Rak New York mundur sampai 1960, rak London sampai 1964, rak Amerika sampai 1973, dan rak luar angkasa sampai 1977. Di Nusantara, film tertua adalah Nagabonar dari 1986. Latar dengan durasi rata-rata terpanjang adalah luar angkasa, 136 menit, dan yang terpendek adalah rak perantau, 105 menit.

Dua puluh tiga film animasi di peta

Film animasi tersebar di sembilan dari lima belas latar, dan sebarannya menunjukkan ke mana para animator paling suka pergi. Lautan memimpin dengan tujuh film: laut, pulau, dan satwanya adalah bahan yang sukar difilmkan dengan kamera dan mudah digambar. Jepang menyusul dengan enam film.

Di kota-kota Barat, animasi muncul satu atau dua kali di tiap rak: Soul di New York, Inside Out dan Cars di Amerika, Brave di Skotlandia, Ratatouille dan Luca di Eropa. Korea dan Tiongkok masing-masing memiliki satu film animasi, dan luar angkasa dua. Keenam rak Nusantara di peta ini seluruhnya berisi film dengan aktor sungguhan.

Peta juga punya waktu

Tempat selalu datang bersama zaman, dan banyak film di Pusatfilm berlatar masa lalu. Membaca peta menurut waktu memberi lapisan kedua pada tiap rak.

Di Nusantara, Sultan Agung berlangsung pada abad ketujuh belas, Bumi Manusia dan Kartini pada peralihan abad kedua puluh, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck pada dekade 1930-an, serta Soegija dan Nagabonar pada masa perang dan revolusi. Gie berlangsung di Jakarta dekade 1960-an, tiga film Dilan di Bandung tahun 1990 dan 1991, dan Bebas berayun antara 1995 dan masa kini. Di ujung lain, Pengepungan di Bukit Duri melompat ke 2027.

Di peta dunia, lapisan waktunya sama tebalnya. London muncul sebagai kota zaman Elizabeth, zaman Victoria, dan masa kini. New York muncul pada 1917, 1926, 1960, dan abad ini. Tiongkok muncul dari masa perang antarkerajaan sampai kota modern, dan Jepang dari zaman Edo sampai Tokyo yang terendam di masa depan. Korea kembali ke Mei 1980 dan ke tahun 1999. Rak luar angkasa, tentu saja, berlangsung dahulu kala di galaksi yang jauh, atau di masa depan yang semoga masih lama.

Kendaraan di peta

Film tentang tempat hampir selalu film tentang cara bergerak di tempat itu, dan beberapa kendaraan di peta Pusatfilm sama terkenalnya dengan tokohnya. Di Bandung, sepeda motor tua Dilan adalah pusat dari pusat cerita. Di Jakarta, Janji Joni berpacu dengan sepeda motor pengantar film, dan Filosofi Kopi berkeliling dengan mobil kedai kopi. Di Semeru, 5 cm ditempuh dengan kaki.

Di peta dunia, taksi hijau dalam A Taxi Driver menempuh jalan dari Seoul ke Gwangju. Mobil merah dalam Drive My Car menjadi ruang pengakuan di Hiroshima. Mobil tua kuning dalam Little Miss Sunshine harus didorong dulu sebelum bisa melaju. Kereta membawa dua orang asing ke Wina dalam Before Sunrise dan murid-murid sihir ke Skotlandia. Kapal bajak laut berlayar di Karibia, perahu cadik di Pasifik, dan di rak terakhir, pesawat antariksa melintasi lubang cacing.

Bila Anda memilih film menurut kendaraan kesukaan, peta ini siap melayani: motor di Bandung, taksi di Seoul, kereta di Eropa, kapal di lautan, dan roket di angkasa.

Lima belas latar dalam lima belas kalimat

Untuk Anda yang ingin gambaran cepat sebelum memilih, berikut watak tiap latar dalam satu kalimat. Jakarta adalah kota dengan seribu wajah, dari gedung kumuh sampai kedai kopi. Bandung adalah kota masa muda, dengan sepeda motor dan udara sejuk. Jawa bagian tengah dan timur adalah tanah sejarah, dari keraton sampai puncak gunung. Sumatra adalah tanah keluarga dan kampung halaman. Kawasan timur adalah padang sabana, hutan, dan laut yang masih jarang difilmkan. Rak perantau adalah koper, paspor, dan rindu.

New York adalah kota tempat pahlawan super dan pegawai kantoran berbagi trotoar. Amerika adalah jalan raya yang panjang dari pantai ke pantai. London dan kepulauannya adalah negeri cerita anak, detektif, dan dataran tinggi. Eropa adalah jalan berbatu, kedai kopi, dan percakapan sampai pagi.

Korea adalah gang sempit, rumah bertingkat, dan luka yang diingat. Jepang adalah sawah, kereta, dan keheningan. Tiongkok dan Hong Kong adalah pedang di masa lalu dan polisi di masa kini. Lautan adalah angin, karang, dan pulau terpencil. Luar angkasa adalah sunyi, bintang, dan jarak yang membuat bumi terasa kecil.

Lima belas watak itu saling melengkapi. Seorang penonton yang menyelesaikan satu film dari tiap latar sudah merasakan hampir semua suasana yang dapat ditawarkan sebuah layar, dan semuanya dimulai dari satu pertanyaan sederhana tentang tempat. Itulah arti kata pusat di Pusatfilm: titik berangkat untuk setiap perjalanan menonton.

Peta ini juga terus bertumbuh. Setiap pembaruan memberi redaksi kesempatan untuk menambah film ke rak yang masih kecil, terutama kawasan timur Indonesia, dan untuk membuka rak baru bagi tempat yang sekarang masih kosong di peta. Bila Anda mengenal film Indonesia yang berpusat di Bali, Maluku, atau Papua, rak untuknya sedang disiapkan.

Cuaca di peta

Tempat juga berarti cuaca, dan beberapa film di Pusatfilm dapat dipilih menurut udara yang ingin Anda rasakan. Untuk hujan dan langit kelabu, London selalu siap, dari Paddington sampai dua film London Love Story. Untuk salju, Klaus membawa Anda ke pulau beku di utara. Untuk kabut, tersedia Silenced di Korea dan Kabut Berduri di perbatasan Kalimantan.

Untuk panas gurun, pilihannya banyak: Dune di planet Arrakis, Oppenheimer di New Mexico, dan Little Miss Sunshine di jalan raya menuju California. Untuk musim panas yang riang, Luca berenang di pesisir Italia dan sebuah film musikal bernyanyi di pulau Yunani. Untuk sejuk pegunungan, Bandung dan Lembang menunggu bersama Dilan dan Sherina, dan Semeru bersama lima sahabat dalam 5 cm. Dan untuk angin laut, seluruh rak lautan terbuka, dari Karibia sampai Pasifik.

Memilih film menurut cuaca terdengar aneh, tetapi sering berhasil. Pada siang yang terik, film bersalju terasa menyegarkan, dan pada malam hujan, film tentang musim panas di Italia terasa seperti liburan singkat.

Ingin ke mana malam ini?

Peta Pusatfilm paling enak dipakai dengan satu pertanyaan sederhana: ingin ke mana malam ini? Jawabannya sering bergantung pada suasana hati, dan lima belas latar menawarkan suasana yang berbeda-beda.

Bila Anda rindu rumah, tinggallah di Nusantara. Jakarta untuk cerita yang terasa dekat, Bandung untuk kenangan masa sekolah, Sumatra untuk cerita keluarga dan kampung halaman. Bila Anda ingin merasakan menjadi pendatang, rak perantau menemani dengan tujuh belas kisah orang Indonesia di negeri orang.

Bila Anda ingin berjalan-jalan dengan nyaman, Eropa dan London adalah pilihan klasik: jalan berbatu, toko buku, dan kedai kopi. Bila Anda ingin ketegangan, Seoul dan Hong Kong menyediakan gang sempit dan polisi yang kelelahan. Bila Anda ingin keheningan, Jepang menawarkan rumah-rumah tenang dan kereta yang melintas di kejauhan.

Dan bila Anda ingin pergi sejauh mungkin dari hari yang melelahkan, dua rak terakhir menunggu. Lautan untuk angin dan garam, luar angkasa untuk sunyi dan bintang. Makin berat hari Anda, makin jauh Anda boleh pergi.

Peta untuk seisi rumah

Tiap latar juga cocok untuk penonton yang berbeda. Untuk anak-anak, rak lautan adalah yang paling aman, dengan tujuh film animasi, disusul rak London dengan Paddington, Mary Poppins, dan dua film Harry Potter. Rak Jawa Barat memuat Petualangan Sherina dan Keluarga Cemara, dua film Indonesia yang ditonton lintas generasi.

Untuk remaja, rak Bandung dan rak Jakarta memuat hampir semua kisah sekolah Indonesia yang terkenal, dan rak Korea menambahkan 20th Century Girl dan My Sassy Girl. Untuk penonton dewasa, rak Amerika, Eropa, dan Korea memuat drama terkuat di peta. Rak Jakarta dan Hong Kong memuat film laga yang keras, sehingga lebih cocok ditonton setelah anak-anak tidur.

Kartu film dan halaman film

Setiap film di Pusatfilm tampil sebagai kartu bergaya blog, seperti situs lama yang memakai nama ini. Poster berada di kiri dengan angka nilai di sudutnya. Di kanan, baris teratas memuat nama latar berwarna biru, misalnya Sumatra atau Korea, lalu judul dengan tahunnya dalam kurung. Di bawahnya tertulis genre utama dan durasi, disusul potongan sinopsis dan tautan Baca selengkapnya.

Halaman film memuat sinopsis lengkap berbahasa Indonesia, nama sutradara, daftar pemeran, negara produksi, bahasa asli, dan tanggal rilis, bersama tombol Tonton sekarang dan tombol Daftar Saya. Perlu diingat bahwa negara produksi dan latar cerita adalah dua hal berbeda: sebuah film Amerika dapat berlatar Paris, dan sebuah film Indonesia dapat berlatar Praha. Rak di Pusatfilm selalu mengikuti latar cerita. Uraiannya ada di Kartu film.

Pencarian di Pusatfilm

Kotak pencarian berada di bilah gelap di bagian atas setiap halaman Pusatfilm. Ketik beberapa huruf judul, dan hasilnya muncul seketika. Anda dapat mencari dengan judul Indonesia, judul internasional, atau tahun. Nama kota di dalam judul ikut membantu: mengetik Jakarta, Barcelona, Beijing, atau London langsung memunculkan film yang memakai nama kota itu.

Halaman A–Z menampilkan seluruh 189 judul menurut abjad, dan menu Latar menampilkan kesembilan belas daftar: lima belas rak latar dan empat bagian peta. Kiat lengkapnya ada di Pencarian.

Tombol Tonton sekarang

Pusatfilm adalah peta, dan peta menunjukkan arah. Perjalanannya sendiri dilakukan bersama layanan resmi pemegang hak film. Tombol Tonton sekarang di tiap halaman film membuka halaman JustWatch untuk film tersebut di negara pilihan Anda, dan di sana tertera layanan langganan, sewa, atau beli yang sedang menyediakannya.

Ketersediaan film berbeda dari negara ke negara dan berubah mengikuti kontrak layanan. Film Indonesia umumnya paling mudah ditemukan dengan pilihan negara Indonesia. Pusatfilm menyerahkan urusan ketersediaan kepada JustWatch, yang memperbarui datanya setiap hari, dan pilihan negara Anda diingat peramban. Rinciannya ada di Tonton sekarang.

Daftar Saya: rencana perjalanan Anda

Di Pusatfilm, Daftar Saya berfungsi sebagai rencana perjalanan. Tombolnya ada di tiap halaman film, dan daftarnya dapat dibuka dari bilah atas. Setiap kartu di dalamnya tetap membawa nama latar, sehingga Anda dapat melihat ke mana saja rencana Anda mengarah, dan latar mana yang selama ini terlewat.

Rencana perjalanan itu dicatat oleh peramban di perangkat yang sedang Anda pakai. Ia langsung siap dipakai dan hanya terlihat oleh Anda. Di peramban atau perangkat lain, rencana Anda dimulai dari kosong. Panduannya ada di Daftar Saya.

Pusatfilm di ponsel

Pusatfilm dibuat ringan seperti blog yang menjadi ilhamnya. Di layar ponsel, papan lima belas latar tersusun dua kolom, dan kartu film menumpuk satu per satu dengan poster di kiri serta nama latar di kanan. Menu utama terlipat dalam satu tombol di sudut bilah gelap.

Di tablet papan tampil tiga kolom, dan di layar komputer lima kolom dalam tiga baris. Poster dimuat sesuai lebar layar agar kuota data Anda hemat. Kiat lain ada di Pusatfilm di ponsel.

Bahasa, judul, dan subtitle

Seluruh teks Pusatfilm ditulis dalam bahasa Indonesia, termasuk sinopsis 121 film asing di peta. Film Indonesia memakai judul aslinya. Film asing memakai judul internasionalnya, dan judul dalam bahasa asal tertera di halaman film.

Peta ini memuat film dalam sepuluh bahasa. Menonton film dalam bahasa latarnya adalah bagian dari perjalanan: logat Sunda di Bandung, bahasa Batak di tepi Danau Toba, bahasa Kanton di Hong Kong. Ketersediaan subtitle Indonesia bergantung pada layanan yang memutar film. Uraiannya ada di Bahasa dan subtitle.

Dari mana data peta berasal

Poster, nilai, durasi, dan data produksi di Pusatfilm berasal dari TMDB, pangkalan data film yang dikelola komunitas penggemarnya. Angka di halaman ini dicatat pada 13 Oktober 2026. Untuk menentukan latar, redaksi memakai kata kunci tempat yang tercatat di sana, lalu memeriksa setiap film dengan tangan. Latar film Indonesia ditetapkan redaksi satu per satu.

Lima belas latar itu baru mencakup sebagian dunia. India, Amerika Latin, Afrika, dan Timur Tengah menunggu rak mereka sendiri pada pembaruan berikutnya, begitu pula Bali, Papua, dan Maluku di Nusantara. Pusatfilm adalah situs mandiri dengan redaksinya sendiri, dan seluruh panduan di halaman ini ditulis khusus untuk peta ini.

Tiga rute untuk kunjungan pertama

Jika ini kunjungan pertama Anda ke Pusatfilm, tiga rute berikut dapat diikuti.

Rute lima menit. Lihat papan lima belas latar, tekan tempat yang paling ingin Anda datangi malam ini, dan buka satu dari empat kartu di barisnya. Baca sinopsisnya, lalu tekan Tonton sekarang.

Rute lima belas menit. Buka daftar Nusantara dan tandai dua film dari dua pulau berbeda ke Daftar Saya. Lalu buka daftar Asia Timur dan tandai dua film dari dua negara berbeda. Empat malam, empat tempat.

Rute penjelajah. Telusuri papan dari Jakarta sampai luar angkasa, rak demi rak, dan pilih satu film dari tiap latar. Lima belas film kemudian, Anda sudah berkeliling Nusantara, menyeberang ke empat benua, berlayar, dan meninggalkan bumi, semuanya dari kursi yang sama.

Pertanyaan yang sering diajukan

Pertanyaan

Apa itu Pusatfilm?

Pusatfilm adalah panduan film berbahasa Indonesia yang menata 189 film menurut tempat ceritanya berlangsung, dalam lima belas rak latar.

Apa saja lima belas latar di Pusatfilm?

Enam rak Nusantara: Jakarta, Bandung dan Jawa Barat, Yogyakarta dan Jawa Tengah serta Timur, Sumatra dan Belitung, kawasan timur, dan perantau di negeri orang. Sembilan rak dunia: New York, Amerika, London dan Kepulauan Britania, Paris dan Eropa, Korea, Jepang, Tiongkok dan Hong Kong, pulau dan lautan, serta luar angkasa.

Bagaimana latar sebuah film ditentukan?

Redaksi memilih tempat yang paling menentukan cerita, dibantu kata kunci tempat di TMDB. Satu film berdiri di satu rak, meskipun ceritanya berpindah-pindah.

Apa beda latar cerita dan negara produksi?

Latar cerita adalah tempat cerita berlangsung; negara produksi adalah asal pembuatnya. Surat dari Praha adalah film Indonesia yang berlatar Ceko, sehingga berdiri di rak perantau.

Latar mana yang nilainya paling tinggi?

Korea dan Jepang, sama-sama dengan nilai rata-rata 7,81. Di Nusantara, yang tertinggi adalah Sumatra dan Belitung dengan 7,3.

Berapa film Indonesia di Pusatfilm?

Enam puluh delapan film: 22 berpusat di Jakarta, 9 di Jawa Barat, 9 di Jawa Tengah dan Timur, 6 di Sumatra dan Belitung, 5 di kawasan timur, dan 17 di luar negeri.

Latar mana yang cocok untuk anak-anak?

Pulau dan lautan, dengan tujuh film animasi, serta London dengan Paddington dan Mary Poppins.

Bagaimana cara menonton film dari Pusatfilm?

Buka halaman film, pilih negara Anda, lalu tekan Tonton sekarang. Halaman JustWatch untuk film itu terbuka dan memperlihatkan layanan resmi yang menyediakannya.

Di mana Daftar Saya disimpan?

Di peramban pada perangkat Anda sendiri. Daftar itu langsung siap dipakai dan hanya terlihat oleh Anda.

Dalam urutan apa film ditampilkan?

Tiap baris di beranda menampilkan empat film yang paling banyak dinilai penonton di latar itu, dan halaman rak lengkap memakai urutan yang sama.